Home » Berita » Opini » Mengeja Arti Kemerdekaan Sebuah Bangsa, dan Menilik Peran Ulama Membangun Negeri Ini

Mengeja Arti Kemerdekaan Sebuah Bangsa, dan Menilik Peran Ulama Membangun Negeri Ini

Kemerdekaan adalah anugerah sang Maha Kuasa kepada hamba-Nya, hususnya manusia. Manusia adalah mahluk Allah yang dianugerahi akal, supaya dia mau berpikir, dan memiliki kehendak, manusia juga dianugerahi hati supaya mampu merasa, serta diberikan nafsu, agar dia memiliki ambisi untuk mencapai kehendaknya. Semua anugerah tersebut sebagai satu kesatuan yang dimiliki oleh manusia untuk mampu menjalankan amanah menjadi mahluk Allah sebagai khalifah di bumi sebagaimana yang telah tersurat di dalam Al-qur’an. Manusia menjadi mahluk yang merdeka dalam menentukan jalan hidupnya, akankah menjadi lebih mulia dari pada para malaikat, ataukah akan menjadi lebih bejat dari hewan. Semua pilihan akan kembali kepada setiap diri masing-masing.
Kemerdekaan manusia sebagai mahluk individu dalam konteks saat ini tidak lepas dari adanya satu ikatan kebangsaan dan kenegaraan. Ketika suatu bangsa atau negara telah merdeka, maka secara otomatis, masyarakatnya pun memiliki kemerdekaan untuk hidup bebas di bumi tempatnya berpijak. Lalu bagaimana sebenarnya arti kemerdekaan bagi sebuah bangsa ?. Siapa yang telah berjuang untuk kemerdekaan bangsa ini, Indonesia?. Milik siapakah kemerdekaan bangsa ini sesungguhnya? Indonesia? Pemerintahan?, TNI,?, para pengusaha?, pemilik modal dalam perindustrian?, atau seluruh masyarakat Indonesia seluruhnya?. Dan Apa yang perlu dilakukan oleh kita, sebagai masyarakat untuk mengisi ruang kemerdekaan bangsa ini?. Pertanyaan-pertanyaan itu perlu kita renungkan dan dijawab, untuk menjadi salahsatu pengantar bagi kita dalam memahami arti kemerdekaan itu sendiri.

Telah kita ketahui bersama bahwa kemerdekaan Indonesia tidaklah didapatkan dari hadiah pemberian, dan secara cuma-cuma. Akan tetapi kemerdekaan Indonesia diraih dengan rangkaian epik panjang yang tak lekang dan surut dari nilai heroik dan kobaran semangat perjuangan para pendahulu kita saat itu. Peranan tokoh-tokoh islam mengawal perjuangan merebut kemerdekaan hingga mempertahankannya mampu mengamankan aidah islamiyah penduduk negeri ini. Padahal, selama tiga abad lebih kaum imperialis bukan hanya menjajah kekayaan alam negeri ini akan tetapi juga terus berupaya menyuburkan kekufurannya kepada bangsa yang mayoritas muslim dan taat ini. Tak bisa dipungkiri, perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia mengusir kaum imperialis (penjajah) dari tanah air tercinta tidak lepas dari peranan besar tokoh-tokoh islam negeri ini. Bahkan, tidak sedikit pemuka agama ini turun langsung berada di garda depan memimpin perang. Sehingga, tak sedikit pula yang berpulang keharibaan Ilahi Robbi sebagai syuhada. Tak terhitung jumlah tokoh muslim nusantara yang gugur sebagai syuhada, diantaranya oleh Pemerintah Republik Indonesia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Kita ketahui Pangeran Diponegoro, KH Wachab Chasbulloh, Teuku Umar, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, Bung Tomo, serta masih banyak lagi yang mengobarkan semangat jihad para pejuang untuk berperang memaksa penjajah hengkang dari bumi pertiwi, bahkan menghancurkannya.

Penjajah yang menggunakan meriam, senapan, dan senjata perang canggih lainnya mampu dikalahkan melalui perjuangan berbekal senjata bambu runcing untuk melawan. Cukup sulit dinalar memang, akan tetapi, itulah kenyataan yang ada. Sejarah kemerdekaan bangsa ini tidak lain atas berkat perjuangan dari kalangan ulama di nusantara. Peran serta ulama ini sangat besar dalam upaya mencapai kemerdekaan Indonesia. Ulama-ulama nusantara ini biasanya memiliki gelar khusus yang diberikan oleh masyarakat, masyarakat di nusantara khusunya di daerah jawa menyebut para ulama atau orang yang memiliki keilmuan yang tinggi dalam hal agama dan memiliki ahlak yang tinggi dengan sebutan “Kiai”.

Dalam relasi sosio-kultural umat Islam di Indonesia, kiai memiliki kedudukan dan posisi penting dalam membina dan menata kehidupan sesuai peran fungsinya sebagai pewaris para nabi (waratsat al-anbiya). Makna para pewaris nabi ini memberikan legitimasi bagi kiai untuk menjalankan berbagai tugas dan tanggung jawab moral yang diantaranya adalah untuk mendidik umat dalam bidang agama dan bidang kehidupan lainya, melakukan kontrol sosial terhadap masyarakat, memecahkan problem sosial yang terjadi di masyarakat, dan menjadi makelar budaya (cultural brokers) yaitu menjadi motor perubahan sosial dalam masyarakat. Dan biasanya, kiai di desa selalu menjadi tempat masyarakat bertanya dan mengadu tentang semua persoalan kehidupan. Dengan jalan melalui berbagai peran yang diembannya baik dalam bidang keagamaan ataupun bidang sosio-kultural, kiai kemudian tampil sebagai suri tauladan yang memiliki kekuasaan hierarkis di dalam struktur masyarakat. Ditinjau dari segi ilmu politik, dan kajian komunikasi politik, kiai juga memiliki peran sebagai aktor politik yang mempunyai sumber daya politik berbasis masyarakat dengan basik kharismatik dan tradisional yang memungkinkan kiai membentuk sikap atau kecenderungan sikap politis tertentu dalam struktur sosial masyarakat di sekitarnya.

Peran Kiai ini pada gilirannya memiliki pengaruh dalam mendorong perjuangan masyarakat di nusantara melawan kaum kolonial. Beberapa contoh perjuangan dari masa menjelang kemerdekaan, yaitu pemberontakan petani menantang penindasan yang berlangsung terus-menerus sepanjang abad ke-19 selalu di bawah bendera islam. Sebagaimana perlawanan yang dilakukan oleh Tengku Cik Di Tiro, Teuku Umar, dan seterusnya oleh Cut Nyak Dien dari tahun 1873-1906 adalah jihad melawan Belanda yang menyengsarakan umat Islam. Nama lain yang juga pernah berjuang adalah KH Zainul Arifin (1909) dari Tapanuli Tengah, KH Zainal Mustafa (1899) dari Tasikmalaya, KH Noer Ali (1914) dari Bekasi, KH Idham Chalid (1921) yang pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo II dan Kabinet Djuanda serta sebagai ketua Tanfidziah NU pada tahun 1956-1984. KH Ahmad Rifa’i (1786) yang juga merupakan salahsatu ulama tarekat dari Jawa Tengah, termasuk juga peran dari ulama-ulama kita yang telah mendirikan tiga organisasi di Indonesia telah memiliki sumbangsih yang sangat besar berdirinya Indonesia. KH Ahmad Dahlan yang mendirikan Muhammadiyah di Jogja dengan gerakan pada bidang pendidikan dan kesehatan, kemudian berdiri Persis di Bandung-Jabar oleh KH Yunus dan KH Zam-Zam, lalu berdiri juga NU di tahun 1926 di Surabaya yang diprakarsai oleh beberapa kiai besar di nusantara, yaitu diantaranya Hadratussyaih KH Hasyim Asy’ari, KH Wachab Chasbullah, KH Bisyri Samsuri. Salah satu hal penting juga yang sangat jarang sekali terungkap dalam buku-buku sejarah nasional kita adalah tentang nama Indonesia itu sendiri. Nama Indonesia, jauh sebelum kemerdekaannya telah diungkapkan oleh KH Wachab Chasbullah dalam syairnya, “Ya lal Wathan”, di dalam syairnya tersebut beliau telah menggunakan nama Indonesia untuk menyebut negeri ini, “Indonesia negeriku, engkau panji martabatku”. Selain dari pada itu kita juga tahu telah terjadi pertempuran yang sangat besar di Surabaya. Itu tidak lain terjadi karena salahsatu fatwa Resolusi jihad dari Hadratussyaih yang kemudian disambut baik oleh kaum muslimin dari berbagai daerah untuk datang ke Surabaya berjuang bersama melawan kaum penjajah.

Sekelumit kecil nama-nama diatas dan kisah perjuangan itu paling tidak bisa mengabarkan pada kita bahwa bagaimanapun juga peranan tokoh-tokoh islam mengawal perjuangan merebut kemerdekaan hingga mempertahankannya mampu mengamankan akidah islamiyah penduduk negeri ini dan mengantarkan kedepan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia. Selain itu, melalui kawalan para tokoh-tokoh islam penerusnya, awal terbangunnya negeri ini sarat diwarnai nuansa dan norma-norma hukum islami, diantaranya ketika perumusan Pancasila sebagai falsafah hidup berbangsa dan bernegara. Namun tidak kemudian memonopoli kemerdekaan ini untuk menjadikan Indonesia sebagai negara untuk satu agama. Demikian pula sampai detik ini, walaupun kita juga mengetahui, bahwa peran besar kaum muslimin ini tidak termaktub dalam buku-buku sejarah nasional yang diajarkan dalam pendidikan formal modern, tapi para ulama kita masih senantiasa setia dan konsisten berjuang bersama semua lapisan mayarakat tanpa pandang agama, ras, atau warna kulit demi kemajuan dan menjaga keutuhan NKRI, inilah bukti nilai keikhlasan dan kedalaman cinta tanah air dari para guru kita, segenap ulama negeri ini. Kondisi ini yang harus kita upayakan agar tetap terjaga bahkan sampai kiamat tinggal dua hari sekalipun.

Dari pemaparan di atas, ada satu kesimpulan yang sangat penting, kemerdekaan adalah hak setiap bangsa dan negara. Kemerdekaan itu ada karena salahsatunya adalah adanya masyarakat yang memiliki cita-cita bersama dan untuk bersatu, dan Indonesia telah memiliki ikatan kebangsaan itu jauh sebelum kemerdekaan negara ini. Dengan kata lain, kemerdekaan Indonesia adalah juga kemerdekaan bagi seluruh rakyatnya. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini bukan miliki suatu golongan, bukan milik suatu agama, bukan milik suatu suku, akan tetapi milik semua rakyat Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Meraoke. Artinya, kita sebagai masyarakat memiliki kewajiban untuk mengisi ruang kemerdekaan ini dengan ilmu dan amal yang memberikan maslahat bagi bangsa dan negara. Terlebih lagi kita yang notabene adalah umat islam, wabil khusus sebagai santri yang merupakan murid dari para ulama yang telah berjuang meraih kemerdekaan, maka sudah barang tentu dan wajib kuadrat untuk meneruskan perjuangan guru-guru kita. Perjuangan dalam membela bangsa dan negara, perjuangan dalam menjaga aqidah islam ahlussunah wal-jamaah annahdliyyah, demi keutuhan bangsa dan negara. Dalam moment kemerdekaan ini sudah sepatutnya kita isi dengan belajar, menuntut ilmu, mencari pengalaman, menambah wawasan, dan pengabdian. Prinsip Almuhafadatuu ‘alaa qadimishshalih wal akhdu bijadidil ashlah harus tetap kita pegang teguh. Akan tetapi dalam konteks era saat ini, kita bukan hanya menjaga tradisi lama yang baik dan ‘mengambil´ tradisi baru yang lebih baik, lebih dari itu, kita harus menjaga tradisi lama yang baik dan harus mampu ‘berinovasi´ menciptakan dan menemukan hal baru yang baik. Oleh sebab saat ini memiliki tantangan yang berbeda dengan pendahulu kita, era informasi dan teknologi terus berkembang dan tidak bisa dibendung, dan jika santri hanya diam dan hanya sekedar ‘mengambil’ hal baru saja, tanpa membuat inovasi atau menciptakan hal baru dalam hal cara pelaksanaan, maka bisa dipastikan, akan tertinggal dan tergerus oleh yang lain, karena Indonesia kini di usianya yang ke 72 bukan dijajah secara fisik dan perang senjata, akan tetapi perang ideologi, ekonomi, sosial dan budaya yang bisa menjadi bom waktu yang dapat meruntuhkan Indonesia.

Setelah kita mengeja proses kemerdekaan dan menilik peran ulama dalam membangun bangsa ini, Indonesia, makna apa yang kita dapatkan dari tulisan ini, kembali diserahkan kepada pembaca sekalian. Dan jika kita belum menemukan makna itu, maka marilah kita mencari makna itu dan mulai bergerak untuk mempersiapkan diri kita menjadi pemimpin kelak dan mengambil peran sesuai kadar kemampuan kita. Bung Karno suatu ketika pernah mengatakan, “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan ku cabut Semeru dari akarnya. Dan beri aku 10 orang pemuda, niscaya akan ku guncangkan dunia’’. Adagium lain mengatakan “Pemuda hari ini, adalah pemimpin di masa mendatang”. Ini berarti pemuda memiliki peran yang sangat penting bagi kemajuan bangsa. Oleh karenanya jangan kita sia-siakan masa muda dalam bingkai kemerdekaan bangsa ini. Mari kita isi moment kemerdekaan saat ini sebagai lompatan bagi kita untuk kembali bisa semangat dalam membangun negeri. Karena Indonesia aalah tentang kita.
Ihdinas shiraatal mustaqiim
Wallahu a’lam ….

oleh : Alwi Ashnafi (Ketua Umum PC PMII Sumedang Jawa Barat)

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*