Home » Berita » Opini » Dramaturgi Wakil Rakyat

Dramaturgi Wakil Rakyat

ERVING Goffman, seorang sosiolog berkebangsaan Kanada-Amerika, menjelaskan soal dramaturgi. Intinya dia menjelaskan bahwa dalam drama terdapat dua panggung, yakni panggung belakang (back stage) dan panggung depan (front stage).

Antara panggung belakang dan depan menampilkan perbedaan. Perbedaan tersebut ialah panggung depan merupakan sandiwara, sedangkan panggung belakang ialah autentisitas dari sang aktor. Apa yang dipertontonkan wakil rakyat kita seolah mengingatkan kita pada dramaturgi tersebut. Wakil rakyat di hadapan publik bicara kepentingan rakyat, tetapi pada panggung belakang bicara soal kepentingan partai dan kelompoknya. Wakil rakyat seolah menampilkan wajah ganda.

Mereka bisa memainkan peran ganda sebagai wakil rakyat dan peran sebagai wakil partai dan kelompok. Dramaturgi tecermin dalam agenda RUU Pemilu yang mana wajah ganda dimainkan dalam pembahasan tersebut. Wajah ganda yang dimaksudkan ialah bahwa wakil rakyat mengabdi kepada dua tuan, yaitu partai dan rakyat. Mestinya mereka hanya mengabdi kepada satu tuan, yaitu rakyat itu sendiri karena kekuasaan adalah milik rakyat. Kalau kekuasaan adalah milik rakyat, tidak ada alasan lain bagi mereka untuk tidak tunduk dan patuh terhadap keinginan rakyat.

Ketika wakil rakyat menampilkan wajah ganda, pada saat yang sama mereka sedang mengkhianati rakyat yang mereka wakili. Lalu dramaturgi ini mendorong saya untuk mengaitkan dengan apa yang terjadi dalam ruang publik belakangan ini. Dramaturgi tersebut terlihat ketika dewan terhormat membahas RUU Pemilu yang sudah hampir sebulan berada di tangan dewan. Seolah mereka kehabisan akal dan mencoba melakukan studi banding untuk melakukan komparasi sistem pemilu di negara lain. Kunjungan yang dilakukan ke Meksiko dan Jerman itu diikuti 30 anggota DPR RI. Sebanyak 15 orang ke Meksiko dan 15 orang ke Jerman. [Opini]

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*